Rabu, 16 April 2014

Laporan PKL



LAPORAN PKL
MATA KULIAH MANAJEMEN OPERASI

MANAJEMEN RANTAI PASOKAN
”Bagaimana perusahaan mengelola Rantai Pasokan Bahan bakunya ”
Pada Perusahaan Gula Madu Kismo – Yogyakarta dan Bakpia Djava - Yogyakarta









Disusun Oleh :
1.      Fahmi Tanzilal                     1M111682


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE)
BANK BPD JATENG
SEMARANG
2012




HALAMAN PENGESAHAN

Laporan PKL yang telah dibuat oleh kelompok ini telah sah sebagai hasil Praktek Kerja Lapangan Tahun Akademik 2011/ 2012 yang diselenggarakan pada tanggal 27 mei 2013

Semarang,27 mei 2013
                       


Dosen pembimbing PKL 2011




( Aprilia Elly Kusumastuti,SE,M.Sc)















KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah- Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) 2013sebagai prasyarat telah menempuh mata kuliah Manajemen Operasi dengan tema “MANAJEMEN RANTAI PASOKAN” (bagaimana perusahaan mengelola rantai pasokan bahan bakunya )  pada PG. Madu Kismo dan Bakpia Djava.

Penulisan Laporan ini tidak terlepas dari bimbingan, arahan, saran dan motivasi dari pihak- pihak lain yang sangat membantu penyusun dalam penyelesaiannya. Untuk itu penyusun tidak lupa mengucapkan terima kasih banyak.

Pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati penyusun mengucapkan terima kasih banyak kepada :
1.       Ibu Piji Pakarti, SE, Msi selaku puket I STIE Bank BPD Jateng
2.       fitria selaku dosen pembimbing
3.      Orang tua tercinta yang telah memberikan doa dan restunya dalam   melaksanakan kegiatan PKL 2011
4.       Dukungan  dari teman- teman tercinta

Penyusun menyadari bahwa dalam penyusun laporan PKL ini masih banyak keterbatasan dan kekurangan, untuk itu saran serta kritik yang membangun penyusun harapkan demi perbaikan selanjutnya. Harapan penyusun, semoga laporan PKL ini dapat bermanfaat bagi semua pihak baik intern maupun ekstern.

                                                                                    Semarang, 27 mei 2013
                           

Penyusun
DAFTAR ISI


                            I.     BAB I  PENDAHULUAN......................................................................          5
A.    Latar Belakang Masalah.......................................................................        5
B.     Perumusan Masalah..............................................................................        6
C.     Tujuan ..................................................................................................        6
                         II.  BAB II  LANDASAN TEORI................................................................          7
                      III.  BAB III  PEMBAHASAN......................................................................           9
D.    Gambaran Umum ................................................................................         9
                                                    i.      Sejarah dan Perkembangan Perusahaan........................................           10
                                                  ii.      Visi dan Misi Perusahaan..............................................................           10
                                                iii.      Bidang Usaha Perusahaan.............................................................           11
                                                iv.      Pendesaian Proses Produksi Perusahaan.......................................           12
                           IV.     BAB IV  PENUTUP.............................................................................          15
E.     Kesimpulan...........................................................................................        15
F.      Saran.....................................................................................................        15
                            V.            DAFTAR PUSTAKA........................................................................          16




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Program Praktek Kerja Lapangan (PKL) merupakan suatu bentuk kegiatan yang harus ditempuh oleh setiap mahasiswa STIE Bank BPD Jateng sebagai tugas akhir dalam mata kuliah Manajemen Operasi. Adapun PKL dilaksanakan pada PG Madu Kismo dan Bakpia Djava Jogjakarta pada tanggal 27 mei 2013 dengan tujuan untuk mengetahui dan memahami secara langsung proses produksi gula dan produksi bakpia djava tentang bagaimana perusahaan tersebut mengelola rantai pasokan bahan baku. Didalam pembelian bahan bakunya meliputi cara memperoleh bahan baku dan bagaimana cara penyimpanannya.
Dalam era globalisasi yang didukung oleh pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan usaha yang semakin kompleks, maka sumber daya manusia dalam suatu perusahaan atau instansi baik pemerintah maupun swasta, khususnya kemampuan kebijaksanaan atau daya intelektualnya maupun arti dan peranan yang sangat besar dalam mengelola perusahaan.
Sebagai mahasiswa yang merupakan individu professional, agar dapat menjadi sumber daya manusia yang berkualitas tinggi maka perlu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan sesuai dengan kondisi lingkungan bisnis yang terus menerus berkembang. Untuk itu mahasiswa STIE BANK BPD Jateng diwajibkan untuk mengikuti Praktek Kuliah Lapangan (PKL) yang merupakan persyaratan perkuliahan sebagai bentuk kegiatan belajar mengajar yang diagendakan dalam rencana kontrak belajar semester V. 





·         Perumusan Masalah
     Desain proses merupakan masalah yang kompleks dan perlu dipelajari. Maka perlu diberi informasi yang relevan diperoleh dari perusahaan untuk mengidentifikasi tentang berbagai permasalahan yang dihadapi seperti :
·         Bagaimanakah PG. Madu Kismo dan Bakpia Djava mendapatkan bahan bakunya?
·         Bagaimanakah PG. Madu Kismo dan Bakpia Djava mengelola bahan bakunya?



·         Tujuan PKL
Bagi Mahasiswa STIE Bank BPD Jateng, diharapkan dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama kuliah dengan memadukan antara teori dan praktek dalam kenyataan sebenarnya dilapangan secara seimbang sehingga mampu memberikan solusi terhadap segala bentuk pernasalahan yang ada. Dengan demikian maka mahasiswa dididik dan disiapkan agar menjadi tenaga yang memiliki kemampuan profesional, kemampuan akademis, kemampuan mandiri serta dituntut menjadi manusia yang berkualitas tinggi sebagai sumber daya manusia yang potensial dalam pengelolaan manajemen khususnya dalam menghadapi persaingan yang kompetitif. Secara khusus mampu menerapkan materi kuliah manajemen operasi dengan praktik yang diberikan oleh pabrik yang dikunjungi.







Bagi STIE BANK BPD JATENG :
·                   Mewujudkan visi dan misi STIE BANK BPD JATENG untuk mengembangkan konsep “Link and Match” dengan pihak - pihak ekternal.
·                   Memperkenalkan STIE BANK BPD JATENG kepada perusahaan atau instansi baik pemerintah maupun swasta dengan harapan dapat terjalin kerjasama yang baik antara kedua pihak.
·                   Mendapatkan suatu umpan balik dari pihak pihak eksternal yang dapat digunakan  untuk melaksanakan perbaikan dan peningkatan program pendidikan di STIE BANK BPD JATENG.





























BAB II
LANDASAN TEORI
                               I.            Pengertian SCM

Supply Chain terdiri dari sekumpulan proses yang berhubungan dengan aliran barang, informasi, dan uang diantara perusahaan-perusahaan, dari tingkat raw material sampai produksi tingkat pemakaian, dan akhirnya pada tingkat daur ulang. Suatu alat untuk mengoptimasi supply chain akan melalui manajemen terintegrsi yang disebt Supply Chin Managment (SCM).
SCM mirip dengan Efficiency Customers Response (ECR) dan Quick Response (QR) dalam pengertian bahwa tujuan alat ini untuk mengefisiensikan hubungan perusahaan dalam Supply Chain secara keseluruhan dengan cara Just In Time (JIT). Bagaimanapun juga, kedua alat ini ditunjukan untuk industri khusus. ECR dikembangkan untuk proses industri makanan, sementara QR untuk industri pakaian. SC tidak ditujukan untuk keperluan suatu industri khusus. Tujuan alat ini secara umum untuk memaksiumkan total value dalam supply hain.
Sejak SCM terlibat dalam aktifitas antar perusahaan, prosesnya meliputi berbagai fungsi seperti supply raw material, manajemen produksi, transportasi, manajemen Inventory Sistem Informasi Manajemen (SIM), proses order, penanganan material, dan manajemen pelanggan. Diantara yang lainnya istilah logistik yang lebih sederhana adalah digunakan dalam penjelasan berikutnya dan diidentifikasikan sebagai kombinasi diantara fungsi-fungsi ini. Lebih jauh lagi, prosedur yang berhubungan dengan izin bea cukai ditambahkan dalam kasus Internasional SCM.
Salah satu fitur utama pada SCM adalah memproses integrasi vertikal dari supplier ke konsumen dapat dilakukan melalui aliansi strategi antar perusahaan. Di salah satu sisi terdapat kasus dimana seluruh proses vertikal dibawa oleh suatu perusahaan (sebagai contoh general motor terdahulu). Selama optimasi total lebih besar daripada jumlah optimasi parsial. Secara umum, optimasi total dalam supply chain adalah lebih besar daripada optmasi parsial dalam ranti individu. Bagaimanapun juga, jika suatu perusahaan dapat melampirkan seluruh proses supply chain di dalamnya dan menjadi suatu organisasi dengan skala yang lebih besar, ini dpat menghasilkan biaya administrasi yang tinggi. Di sisi lainnya, terdapat kasus dimana setiap perushaan adalah independen dari perusahaan lainnya dan bertransaksi secara individu dalam proses vertikal tanpa strategi. Aliansi antar perusahaan, yang membuat keuntungan optimasi lebih rendah dan biaya admistrasi lebih rendah. Posisi dari SCM berada pada kedua sisi tersebut. Masing-masing perusahaan independen secara strategi berhubungan dengan perusahaan lainnya dalam proses integrasi vertikal.

                            II.            Keuntungan SCM dan Kerugian SCM

SCM yang didesain dengan baik menghasilkan net value positif dengan memberikan keuntungan, mengurang biaya, dan menigkatkan kelangsungan hidup keuangan. Perusahaan dengan supply chain yang diselsaikan dengan baik dapat membagikan keuntungan dengan layak, dengan menghasilkan yang disebut ”win-win relationship”.
Pertama, sumber daya untuk menghasilkan keuntungan termasuk menekan lea-time atau respone yang fleksibel pada pelanggan. Seperti improvemen atau peningkatan dapat membuat supply chain perusahaan yang kopetitive. Keuntungan ini dihasilkan dari sumber daya perusahaan yang terpusat terhadap core-competence mereka dan menghasilkan valeu dengan memiliki fleksibilitas dan dapat beradaptasi terhadap perubahan lingkungan pasar.
Kedua, biaya dapat dikurangi berhubungan dengan keuntungan yang terintegritas. Terdapat skala ekonomi dan jangkauan pada proes integrasi vertikal Sebagai contoh, menghindari investment yang berlebihan dalam warehousing dan mengurangi inventory level dengan berbagi informasi.
Bagaimana juga, dengan maksud untuk memaksimalkan suatu net value dengan SCM, ”aliansi antara perusahaan” dengan persekutuan atau hubngan kerja yang reliable jika diperlukan. Dalam menjalankannya memerlukan biaya transaksi yang tinggi dan membutuhkan tiga kondisi. Pertama, waktu hubungan haruslah cukup panjang atau lama untuk membuat partnership yang baik dan berkomitmen. Kedua, perusahaan dalam supply chain harus memiliki kemmpun yang diperlukan dan harus membagi tanggung jawab dengan masuk akal (seimbang).
Ketiga, berbagai jenis informasi seperti pesanan, inventory atau permintan pelanggan harus dapat dibagi dan diproses dengan benar. Dengan memperhatikan tiga poin tersebut pengebangan IT sebelumnya dapat berkontribsi terhadp SCM.



                         III.            SCM dan Pengembangan IT          
Dalam mendisain bagaimana mengatur aliran barang dalam supply chain DHL selalu mempertimbangkan persoalan bagaiana memproses informasi. Proses informasi adala salah satu fungsi utama pada SCM perkembangan terakhir dan inovasi dalam IT telah memberian kesempatan untuk menaikan kapabilitas proses informasi. Oleh karena itu untuk meningkatkan performa SCM.
IT dapat memberikan dua kontribusi dalam SCM :
  1. Perbaikan dan berbagai infomasi diantara perusahaan.
  2. Identifikasi permasalahan yang tepat dan optimasi.
Pertama, telah dibicarakan elektronik data adalah suatu cara yang efektif untuk mempromosikan pembagian informasi dengan tepat diantara perusahaan sehingga bertepatan dengan tujuan SCM. Elektronik data interchange didefinisikan sebagai suatu hubungan online komputer dan pertukaran informasi pada transaksi diantara perusahaan. Bagaimanapun juga, diperlukan elektronik data interchange diperlukan elektronik interchange khusus untuk dimasukan kedalam suatu value added network atau saluran yang dibuka dengan tujuan untuk membagi suatu jaringan. Jumlah model yang sangat besar untuk berinvestasi dalam suatu value added network atau saluran yang dibuka telah menjadi alasan utama mengapa manajemen elektronic data interchangeelektronic data interchange logistic khusus telah menjadi sangat lambat.
Bagaimanapun juga suatu permasalahan invesment kemungkinan besar juga dpat dislesaikan dengan menyebarkan teknlogi internet. Pembagian informasi diantara perusahaan dapat diandalkan dengan web elektronik data interchange. Daripada membuka saluran elektronik data interchange. Meskipun kenyataannya internet menimbulakan beberapa masalah pada keamanan dan standarisasi, web elektronik data interchange sangat berguna dikarenakan memiliki biaya yang rendah pada invesment dibandingkan dengan membangun jaringan terbuka. Dari manfaat ini web elektronik data interchange telah memerikan kemungkinan dalam mempromosikan pembagian informasi diantara perusahaan lebih jauh lagi, emggunaan internet dikombinasikan dengan ITS menghasilkan kemungkinan untuk memperbaiki sistem logistik kota.
Pembagian informasi tidak hanya diperkenalkan oleh perusahaan swasta tetapi oleh pemerintah juga sebagai contoh dalam logistik internasional, sejak wewenang pemerintah tidak terhubung secara efisien dengan yang lainnya atau dengan perusahaan swasta ketika melakukan prosedur bea cukai, ini menjadi sumber hambatan dalam logistik.
Disamping kemudahan penggunaan dari EDI atau Web-EDI, ERP juga telah mendapatkan perhatian yang luas. ERP adalah suatu metode ngatur informasi dengan tujuan berbagi informasi perusahaan pada saat ini pengenalan ERP dalam setiap perusahaan adalah komplementasi satu sama lainnya oleh EDI agar berbagai informasi diantara perusahaan dalam SCM.
Kedua, karena berbagai informasi memberikan banyak data yang tersedia, kita harus merumuskan masalah berdasarkan data, dan menemukan cara untuk menyelesaikannya. Perkembangan aplikasi software sebenarnya untuk menyelesaikan berbagai masalah telah mendapatkan keuntungan lebih besar dengan perkembangan IT saat ini. Software untuk merealisasikan SCM secara bersamaan disebut Supply Chain Planning Software (SCPS). SCPS terdiri dari beberapa software pada manufacturing planning, demand forecasting, transportation planning, inventory management schecduling, dan lain-lain. Pada umumnya, kemajuan IT telah mengembangkan secara cepat pembagian atau berbagai informsi diantara perusahaan yang diperlukan untuk SCM, dan telah menyebabkan perbaikan dalam kualitas dari aplikasi software untuk memproses informasi atau software supply chain planning.

                         IV.            Tujuan Manajemen Supply Chain

Tujuan dari manajemen supply chain adalah untuk menjamin kesatuan gerak dari jumlah dan kwalitas yang memadai pada persediaan yang meliputi banyak hal seperti perencanaan dan komunikasi. Lebih sederhana lagi dapat diartikan bahwa tujuan dari management supply chain adalah untuk memastikan seluruh item barang berada pada tempat dan waktu yang tepat agar dapat memberikan keuntungan yang terbaik dan service kepada customer.
Keuntungan dari manajemen supply chain yang efektif adalah untuk mendapatkan kecepatan yang maksimal pada saat barang dan jasa bergerak melalui jalur supply sementara itu terjadi penurunan biaya dan peningkatan nilai tambah untuk service ke customer.



Faktor-faktor yang mendorong manajemen supply chain:
· Manufacturer : memastikan biaya produksi yang lebih rendah
Pada saat ini supply chain didorong oleh operasi pada manufaktur untuk memastikan biaya produksi yang lebih rendah. Dorongan customer terhadap lingkungan keduanya baik itu manufaktur dan supply chain dimana pengiriman produk harus lebih cepat untuk menjamin retailer dapat memenuhi permintaan pasar yang selalu berubah dengan cepat.


                            V.            Mencapai supply chain terintegrasi

Menurut Miranda dan Tunggal terdiri dari beberapa tahapan, antara lain:
Tahap 1 : Baseline (Dasar) Posisi dari kebebasan fungsional yang lengkap di mana masing-masing fungsi bisnis seperti produksi dan pembelian melakukan aktivitas mereka secara sendiri-sendiri dan terpisah dari fungsi bisnis yang lain.
Tahap 2: Integrasi Fungsional Perusahaan telah menyadari perlu sekurang-kurangnya ada penggabungan antara fungsi-fungsi yang melakukan aktivitas hampir sama, misalnya antara bagian distribusi dan manajemen persediaan atau pembelian dengan pengendalian material.
Tahap 3: Integrasi secara internalDiperlukan pengadaan dan pelaksanaan perencanaan kerangka kerja end-to-end.
Tahap 4: Integrasi secara eksternalIntegrasi supply chain yang sebenarnya dengan konsep menghubungkan dan koordinasi yang dicapai pada Tahap3, yang diperluas dengan bagian supplier dan pelanggan.



BAB III
PEMBAHASAN

A.            Gambaran Umum Perusahaan Gula Madu Kismo - Yogyakarta

                                       i.         Sejarah dan Perkembangan Perusahaan
    PG-PS Madukismo adalah satu-satunya pabrik gula dan pabrik alkohol/spirtus di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang mengemban tugas untuk mensukseskan progam pengadaan pangan Nasional, khususnya Gula Pasir . Sebagai Perusahaan padat karya banyak menampung tenaga kerja dari Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
    Perusahaan ini dibangun tahun 1955 atas prakarsa Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang diresmikan oleh presiden RI pertama Ir. Soekarno. Pabrik Gula mulai memproduksi tahun 1958 dan Pabrik Spirtus mulai memproduksi tahun 1959.
    PT Madu Baru dibangun di atas lokasi Bangunan Pabrik Gila Padokan ( satu diantara dari 17 Pabrik Gula di Daerah Istimewa Yogyakarta yang dibangun Pemerintah Belanda, tetapi di bumi hanguskan pada masa Pemerintah Jepang ), yang terletak di Desa Padokan , Kelurahan Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
    Status dari perusahaan ini adalah Perseroan Terbatas, didirikan tanggal 14 juni 1955 diberi nama : “ Pabrik-pabrik Gula Madu Baru PT” (P2G Madu Baru PT), memiliki dua pabrik :
·         Pabrik Gula (PG) Madukismo
·         Pabrik Alkohol/Spirtus (PS) Madukismo
Pada awal berdiri perusahaan ini pemilik saham 75% adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX sedangkan 25% nya adalah milik pemerintah RI ( Departemen Pertanian RI). Saat ini telah dirubah menjadi 65% milik Dri Sultan Hamengkubuwono X dan 35% milik Pemerintah ( dikuasai kepada PT. Rajawali Nusantara Indonesia, sebuah BUMN )

                           ii.                  Visi dan Misi Perusahaan Madukismo
Visi : PT Madu Baru menjadi perusahaan agro industri yang unggul di Indonesia dengan petani sebagai mitra sejati

Misi :
·         Menghasilkan gula dan etanol yang berkualitas untuk memenuhi permintaan masyarakat dan industri di Indonesia
·         Menghasilkan produk dengan memanfaatkan teknologi maju yang ramah lingkungan, dikelola secara profesional dan inovatif memberikan pelayanan yang prima kepada pelanggan serta mengutamakan kemitraan dengan petani
·         Mengembangkan produk atau bisnis baru yang mendukung bisnis inti
·         Menempatkan karyawan dan stackholder lainnya sebagai bagian terpentingdalam proses penciptaan keunggulan produksi dan pencapaian shareholder value



                         iii.      Bidang Usaha
              Perusahaan ini memiliki usaha di bidang produksi utama dan sampingan. Produksi utamanya berupa gula pasir dengan kualitas SHS IA ( Superior Head Sugar ) atau GKP (Gula Kristal Putih ). Mutu Produksi dipantau oleh P3GI Pasuruan ( Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia ). Sedangkan produk sampingannya berupa :
v  Alcohol murni ( kadar 95%)
v  Spirtus bakar     ( kadar 94%)
Mutu dipantau oleh Balai Penelitian kimia Departemen Perindustrian dan PT Sucofindo Indonesia.


Proses Rantai Pasokan PG.madu kismo jogjakarta

              Metode rantai pasokan yang digunkan dalam pabrikgula menggunakan cara sistem kontrak dengan para petani tebu,diproses dengan cara menyediakan bahan baku dari petani yang ditanam selama tujuh bulan.dari hasil panen yang sudah ada dilakukan pembagian proporsi laba sebesar 30% untuk petani dan 70%  untuk perusahaan,dengan perusahaan ,menyewa lahan para petani jadi setiap bahan baku yang dibutuhkan oleh pabrik mereka memberdayakan para petani membuat program pengembangan yang terstuktur dari proses menanaman sampai dengan proses panen.program pengembangan yang diterapkan oleh pabrik gula madu kismo menerapkan sistem edukasi dinama semua para petani diberikan fasilitas pelatihan oleh perusahaan.tidak hanya fasilitas pelatihan saja tetapi dalam prosesnya semua para petani diawasi dijaga dan dimanageri oleh manager pengawas lapangan agar semua aktifitas yang ada dilapangan terkendali dengan baik.proses pengawasan yang benar juga harus diterapkan disini karena untuk menghindari berbagai kecurangan yang terjadi lapangan seprti pembakaran lahan dan juga perusakan lahan akibat ulah sebagian oknum.

Proses rantai pasokan bakpia djava.

              Perusahaan bakpia djava membuat pengadaan bahan baku untuk setiap proses produksinya tidaak mengguanakan sistem persediaan barang melainkan dengan metode pengadaan barang yang disediakan saat itu juga yang biasanya disebut dengan just in time dimana bahan baku yang dibutuhkan untuk setiap proses produksi dipesan menggunakan cara order.order dilakukan apabila ada permintaan produksi bakpia atau order dialkukan apabila proses produksi bakpia itu sendiri akan diproduksi.pengadaan bahan baku bakpia djava tidal dipasok atau tidak memerlukan rantai pasokan karena semua bahan baku yang dibutuhkan tidak menggunakan aktifitas pergudangan oleh karena itu disini bakpia djava tidak memiliki akfitas SCM untuk pengadaan bahan baku yang digunakan.




Produksi PG.madu baru
                  
                   Pengadaan banah baku yang sudah diterima dari petani dimasukkan kedalam gudang penyimpanan bahan sebagai persediaan barang yang siap untuk diproses.sistem persediaan yang digunakan oleh PG madu kismo menggunakan metode FIFO yang sering disebut first in first out bahan baku yang pertama masuk maka bahan baku itulah yang akan digunakan untuk produksi.begitu juga bahan yang nantinya akan tersedia untuk dijual menggunakan sistem tersebut.semua bahan yang ada digudang disimpan dikemas dengan sistem pengemasan yang terstandarlisir,yang artinya semua pengemasan bahan baku sesuai dengan operasional prosedur.semua bahan yang dikemas digudang disusun dikemas serta ditata dengan sistem yang ada karena itu semua bahan yang nantinya akan dikeluarkan dipasaran tidak mengalami kerusakan.


Bproduksi bakpia Djava
           
                 Dalam produksi bakpia djava disana masih menggunakan sistem produksi tradisional yang semua proses produksinya dilakukan secara manual artinya tidak menggunakan teknologi mesin.sistem produksi dalam bakpia djava semuanya berfokus pada produk atau sering disebut dengan intermiten produk.akfitas produksi dilakukan dengan sistem pengawasan dari manager produksi,dari semua serangkaian proses produksi semua bahannya dilihat dikontrol dan dikendalikan secara terperinc dan secara teliti.produk yang dihasilkanpun menjadi produk yang siap saji siap untuk dikeluarkan dan dipasarkan kepada para konsumennya.bakpia djava menjaga semua mutu dan kualitas barangnya berteknologi tinggi yang artinya semua item yang dikeluarkan setelah selesainya proses produksi dikemas secara ekonomis dan higenis sehingga produk yang diterima dipasaran masih terjaga mutu serta kualitasnya,






Distribusi PG.madu kismo
            PG.madu kismo tidak menerapkan sistem distribusi yang secara langsung melainkan PG.madu kissmo melakukan lelang kepada seluruh distributor gula yang ada diseluh wilayah jawa tengah dan sekitarnya.lelang dilakukan setiap minggu sekali dengan kuota gula yang harus dibele minimal 2ton gula untuk setiap kali lelangnya.semua distribusi berhak memasarkan gulanya dimana mereka ingin memasarkannya karena semua hasil lelang yang mereka dapat akan dijual lagi dipasaran tergantung adri mereka.karena sisitem itulah yang diterapkan dalam pabrik guka madu kismo maka aktifitas distribusi gula yang ada sangan tergantung pada lelang yang ada karena madu kismo menyerahkan sepenuhnya kepda para distributor-distributor gula.

Distribusi bakpia djava

            Bakpia djava setelah selesai melakukan akfitas produksi dan setelah selesai dari proses pengemasan dan pengepakan barang,pabrik bakpia djava tidak pernah menyimpan hasil produksinya melainkan langsung menjual dipasaran dengan langsung memasarkan seluruh produk yang dihasilkan di outlet-outlet yang mereka meliki artiya bakpia djava juga tidak melakukan aktifitas distribusi yang menyeluruh,dikarenakan semua produk yang dihasilkan oleh bakpia djava memiliki ciri keunikan kekhasan yang tersendiri sebagai prooduk oleh-oleh khas jogjakarta,oleh karena itu produk bakpia djava yidak dipasarkan keluar daerah atau keluar wilayah jogjakarta.















B.                 Gambaran Umum Perusahaan Bakpia Djava - Yogyakarta

                                       i.         Sejarah dan Perkembangan Perusahaan
Lahir di Kampung Pathuk pada tahun 1970-an, Bakpia Djava pada mulanya hanyalah industrinya rumahan. Proses produksi seluruhnya dilakukan secara sederhana. Mulai dari pemilihan bahan, proses pembuatan, hingga pengemasan. Semua dilakukan secara manual. Kapsitas produksi pun sangat terbatas dengan pemasaran yang hanya dijajakan keliling kampong.
Rasa lezat berkat resap tradisional dan tempo doeloe yang digunakan membuat Bakpia Djava semakin digemari. Pemasaran yang semula hanya dengan keliling kampong kemudin diubah. Untuk memenuhi banyaknya permintaan, pada tahun 2000 Bakpia Djava membangun sebuah took di Kampung Pathuk No. 93. Dalam perkembangan sejarahnya, jalan di kampong ini kemudian diberi nama Jl. Aipda KS Tubun. Pada tahun ini pula nama Bakpia Djava secara resmi ditetapkan sebagai nama toko.
Bagi sebagian besar kalangan, pemilihan Bakpia Djava sebagai keluar dari tradisi toko bakpia yang saat itu hampir seluruhnya menggunakan “angka” sebagai nama toko. Namun, bagi Bakpia Djava, inilah yang mesti dilakukan mesti dilakukan sebagai respon atas perkembangan dunia pariwisata yang mengalami perubahan sedemikian signifikan. Pariwisata tidak lagi menjadi kebutuhan tersier, tapi kebutuhan sekunder. Dalam dunia pendidikan, pariwisata bahkan menjadi bagian dai metode pendidikan luar ruang. Sikap responsive atas perkembangan dunia pariwisata inilah yang membuat Bakpia Djava terus berkembang. Pada tahun 2008, Bakpia Djava kembali membangun toko di Jl. Adisutjipto km 8,5 Yogyakarta. Dengan nama yang sama, toko ini merupakan upaya Bakpia Djava melayani konsumen yang terus bertambah. Hanya berselang dua tahun, tepatnya tahun 2010, kembali mendirikan toko. Berdampingan dengan toko sebelumnya, toko baru dengan lahan parkir sangat luas ini juga diberi nama sama, Bakpia Djava.
Pemilihan nama Baakpia Djava sekali lagi terbukti bukan sekedar untuk tampil beda dengan toko-toko sejenis yang hampir semuanya menggunakan angka sebagai nama. Terbukti, dalam perjalanan waktu, Bakpia Djava justru berkembang pesat. Pemilihan nama Bakpia djava memiliki makna filososfis “the past is new”. Sejarah dan tradisi  masa lalu adalah kebaruan. Dengan tag line “Resep tradisional tempo doeloe” Bakpia Djava tetap setia dan konsisten menggunakan resep tradisional yang tanpa bahan kimia untuk setiap produk yang dijual secara modern.
Konsistensi tradisioanal juga dilakukan dengan menempatkan dapur produksi ditoko sehingga konsumen bisa melihat langsung proses pembuatan bakpia. Bukan itu saja, kepada konsumen yang tertarik untuk merasakan sensasi saat membuat sendiri bakpai yang akan dibeli, dengan senga hati kru produksi Bakpai Djava akan mendampingi.

                              ii.      Visi dan Misi Bakpia Djava

Visi Bakpia Djava adalah menjadi produsen bakpia yang paling lezat dan menjadi toko oleh-oleh paling lengkap dengan layanan yang prima. Sedangkan misinya adalah menjaga bakpia sebagai ikon oleh-oleh khas Jogjakarta dan menjaga penganan tradisional lain tetap lestari.
Menjaga bakpia sebagai ikon oleh-oleh khas Jogjakarta dilakukan Bakpia Djava salah satunya dengan membuat bakpia raksasa seberat dua ton. Melibatkan 29 juru masak dan oven yang dirancang khusus pembuatan bakpia raksasa ini digelar di Monumen Serangan Oemoem 1 Maret, Jogjakarta pada 12 Juni 2010. Museum Rekor Indonesia (MURI) mencatat mahakarya ini ke dalam Buku Rekor sebagai Bakpia Terbesar di Indonesia. Selain itu MURI juga mengganjar Bakpia Djava atas rekor makan bakpia massal dengan peserta terbanyak yakni 1.300 orang.
Komitmen untuk menjaga penganan tradisional tetap lestari diwujudkan Bakpia Djava dengan menjadikan toko sebagai kelas bagi para siswa untuk belajar membuat bakpia. Bakpia Djava membuka pintu selebar-lebarnya bagi sekolah yang ingin melakukan kunjungan dalam kerangka pendidikan luar ruang.







































Kesimpulan dan saran



              Bahwa dalam rantai pasokan suatu perusahaan memiliki suatu pedoman atau tekhnis masing masing yang digunkan. Dalam pabrikgula menggunakan cara sistem kontrak dengan para petani tebu,diproses dengan cara menyediakan bahan baku dari petani yang ditanam selama tujuh bulan.dari hasil panen yang sudah ada dilakukan pembagian proporsi laba sebesar 30% untuk petani dan 70%  untuk perusahaan,dengan perusahaan ,menyewa lahan para petani jadi setiap bahan baku yang dibutuhkan oleh pabrik mereka memberdayakan para petani membuat program pengembangan yang terstuktur dari proses menanaman sampai dengan proses panen.
Dalam bakpia djava sendiri membuat pengadaan bahan baku untuk setiap proses produksinya tidaak mengguanakan sistem persediaan barang melainkan dengan metode pengadaan barang yang disediakan saat itu juga yang biasanya disebut dengan just in time dimana bahan baku yang dibutuhkan untuk setiap proses produksi dipesan menggunakan cara order.order dilakukan apabila ada permintaan produksi bakpia atau order dialkukan apabila proses produksi bakpia itu sendiri akan diproduksi. Lebih ke dengan sesuai dengan kebutuhan, atau sesuai dengan pesanan sendiri dengan melihat konsumen dating dan membeli.

              Saran dari klompok kami, lebih melihat suatu tekhnis jika tekhis tersebut pas atau sesuai dengan konsumen yang di kehendaki maka tak akan kelebihan ataupun kekurangan dalam suatu produksi tersebut. Meihat di jajraran pasaran sekarang banyak produksi gula maupun bakpia yang tenar, dan lebih mengutaman suatu khas atau budaya pembuatan yang berbeda.
Juga selalu melakukan peninjauan bahan baku yang tersedia. Sebagai rekomendasi penelitian berikutnya.









BY.KINERJA  KAMI
THANKS . . .


Tidak ada komentar:

Posting Komentar